Subscribe to noegroho
Jan
31

Aku Tidak Ingin Pergi

Posted by noegroho under Kehidupan

Beberapa bulan, mungkin dua bulan, terakhir ini…

Agak sulit untuk mengatakan, mengapa akhir-akhir ini saya jarang menulis. Complicated. Desember terlewatkan begitu saja tanpa satu tulisan pun. Januari di awal tahun pun hampir saja terlewati. Mungkin skripsi dapat dijadikan alasan utama. Namun, dengan itu, toh saya sebenarnya masih punya banyak waktu. Read the rest of this entry »

Nov
03

November Optimis

Posted by noegroho under Kehidupan

Tak terasa dah bulan November. Hhm, berarti bulan Oktober kulewatkan tanpa menulis di blog. Jangankan menulis, untuk blog walking aja aku pun tak ada waktu. Kepergian satu orang sahabat ternyata memberi pengaruh besar, apalagi jika ia adalah rekan kerjaku. Semenjak saat itu, hari-hariku habis untuk bekerja. Lelah badan ini tak dapat kututupi.

Ah, tapi itu dah lewat. Akhirnya aku harus terbiasa dengan keadaan ini. Aku tak boleh mengeluh, menyerah dengan keadaan. Lagu D’massive yang memiliki title ‘Jangan Menyerah’ seperti setetes embun di lautan pasir. Benar-banar membangkitkan semangat untuk terus maju, meski aku pun tak terlalu suka dengan band tersebut. Read the rest of this entry »

Sep
23

Asuransi: Antara Agen dan Pemegang Polis

Posted by noegroho under Lomba

Akhir-akhir ini Indonesia dilanda banyak bencana alam yang datang silih berganti bagai ombak lautan yang tak ada habisnya. Belum selesai penanganan korban bencana gempa di Tasikmalaya, Jawa Barat, datang lagi gempa di Maluku, banjir di Mandailing Natal, Sumatera Utara dan terakhir disusul gempa di Bali. Belum lagi banyaknya kebakaran yang terjadi di Ibukota Jakarta, dan banyaknya korban meninggal pada kecelakaan pada arus mudik 2009 yang mencapai 319 jiwa.

Semua meninggalkan kabar yang sama, yaitu meninggalnya orang-orang yang tercinta atau setidaknya banyak korban harta benda melayang tanpa ada pengganti yang jelas. Ketika yang meninggal merupakan pilar ekonomi keluarga, maka pendapatan yang ada otomatis menghilang juga bersama dengan meninggalnya mereka. Akan berbeda jika mereka menggunakan asuransi, tentu mereka akan mendapat penggantian. Jadi tidak perlu pusing untuk melanjutkan hidup selain kehilangan orang yang dicintai. Setidaknya secara ekonomi, mereka akan dijamin oleh asuransi.

Sebenarnya asuransi sebagai perlindungan dikala tertimpa bencana mendadak, ada di Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Indonesia yang membentang di daerah ring of fire—yang merupakan daerah pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasifik, merupakan daerah yang secara geografis rawan diguncang gempa dan tentu banyak gunung berapi aktif yang muncul akibat desakan lempeng. Ini tentu menjadi daerah yang rawan menelan korban baik jiwa maupun korban secara ekonomi. Namun, dari ratusan juta penduduk Indonesia, yang sadar akan pentingnya asuransi masih sedikit.

Citra asuransi sebagai persiapan masa depan sejak dini, belum sepenuhnya disadari oleh keluarga di Indonesia. Kebanyakan masyarakat masih mengenal asuransi dari agen, bukan mendatangi langsung kantor asuransinya. Disinilah pentingnya suatu agen asuransi yang bekerja secara profesional. Sekarang telah banyak perusahaan asuransi yang melakukan pelatihan untuk agen-agennya.

Tidak seperti zaman dulu, yang siapa saja bisa jadi agen asuransi, sekarang untuk menjadi agen harus mengikuti ujian sertifikasi agar mendapat lisensi permanen. Mereka yang menjadi agen harus dapat menjual produk-produk yang ditawarkan. Tidak hanya menjual, mereka juga harus mendampingi calon nasabah maupung pemegang polis. Agen dituntut untuk menjadi konsultan keuangan (financial consultant) bagi nasabah, sehingga nasabah dapat merencanakan keuangan mereka dengan memilih produk yang tepat untuk kebutuhan mereka. Karena realitas yang ada menunjukkan masyarakat masih kurang sadar berasuransi, agen harus dapat menjadi ujung tombak suatu perusahaan asuransi dalam memasarkan produknya.

Jadi saat ini, model yang terjadi di Indonesia kebanyakan adalah hubungan yang tercipta antara agen dan pemegang polis. Para pemegang polis pun memerlukan layanan purnajual dengan bantuan bimbingan para agen. Profesionalisme agen dengan tidak meninggalkan nasabah, tentu akan menaikkan citra perusahaan asuransi tempat mereka bernaung dibawahnya. Perusahaan asuransi pun memberikan komisi yang cukup, jika agen rajin mendatangkan polis baru. Sangat terbuka kesempatan untuk mendatangkan pemasukan jutaan, bahkan ratusan juta tergantung dari besarnya polis asuransi yang didapatkan agen. Adanya penghargaan yang ditandai dengan ajang Top Agent Award—dimana ini adalah kesempatan untuk memenangkan hadiah jalan-jalan gratis yang biasanya ke luar negeri—akan meningkatkan antuasiasme para agen untuk terus maju selain tentunya gengsi mendapatkan penghargaan tertinggi sebagai “Agent of the Year”.

Toh, perusahaan asuransi pun tidak hanya diam. Pendidikan untuk para agen pun diberikan dengan adanya akademi-akademi yang tentu akan menambah pengetahuan tentang bagaimana melayani dan meraih hati nasabah. Profesi menjadi agen asuransi pun menjadi profesi yang diakui dengan adanya pelatihan pendidikan dan karier yang sangat nyata. Masyarakat pun semakin tahu bahwa dengan menjadi agen asuransi, kehidupan yang layak dapat diraih.

Sejalan dengan agen, nasabah pemegang polis pun akan diuntungkan karena mereka tidak perlu kawatir akan masa depan. Adanya agen professional yang terus membimbing nasabah untuk memberitahu perkembangan produk yang diambil, membuat mereka merasa bahwa uang yang mereka masukkan ke dalam asuransi akan terjamin keamanannya.

Hubungan antara agen dan pemegang polis inilah realita yang harus dijaga agar perusahaan asuransi tetap berjalan. Semua pihak akan merasa diuntungkan. Perusahaan asuransi dapat menjalankan rodanya untuk menghidupi karyawannya, nasabah pemegang polis terjamin masa depannya dan para agen pun mendapatkan komisi yang dapat membantu cita-cita mereka untuk hidup yang lebih baik. Negara pun semakin kuat di bidang ekonomi, karena rakyat tidak mudah jatuh saat ada bencana dengan asuransi yang mereka miliki.  Sesuai dengan tagline dari FAPI (Federasi Asosiasi Perasuransian Indonesia), Mari Berasuransi…

Tulisan ini dibuat untuk lomba menulis tentang Asuransi yang diselenggarakan oleh

Federasi Asosiasi Peasuransian Indonesia

Berkali-kali membuka halaman pestablogger.com eh, kok ya baru ditanggal 17 september jam 4 pagi baru sadar kalau ada lomba menulis. Lha ini kan hari terakhir tugas menulis Writing Contest Pesta Blogger 2009. Semoga Ndoro Kakung dan mas Arswendo masih sempat membaca.

Pluralisme? wah, saya kurang paham untuk menerjemahkan arti kata itu. Dulu jaman saya masih sekolah, kata-kata itu belum familiar. Tapi kalau kata Bhinneka, saya tahu itu. Bahkan dari kecil saya sudah dipaksa belajar mengerti apa artinya karena selama sekolah, ya selama itulah saya mempelajari Bhinneka Tunggal Ika. Selama sekolah? Lha, berarti setelah lulus tidak suka mengamalkan Bhinneka tunggal ika? Maaf, sekarang saya menilai Indonesia itu lain dengan saat masa saya sekolah itu.

Indonesia itu kaya akan pluralisme (katanya tidak tahu.. :) ).

*Lha saya cari di internet, ya akhirnya tahu. Tapi saya ingin menulis, bukan menerangkan arti kata pluralisme* Lanjutt….

Anda tidak percaya? Bukalah peta Indonesia. Membentang dari Sabang sampai Merauke, punya nenek moyang pelaut dan kaya akan sumber daya alam. (Hubungannya dimana?) Jadi ingat kemarin, malam-malam beli bakso di depan kompleks perumahan. Saya dan bapak yang jualan bakso pun berbincang sedikit karena saya diburu jam kerja.

“Tidak mudik pak?”

Tukang bakso: Nggih, mas. Saya mudik kok.

“Sudah beli tiket apa pak?naik pesawat atau bus?”

Tukang bakso: Wah, saya naik motor mas.

“Naik motor?(kaget) Berapa hari pak?”

Tukang bakso: 3 hari 2 malam mas. Rame-rame kok, kalau sendiri ya ndak berani tho..

Wah, 3 hari 2 malam mudik naik sepeda motor untuk pulang dari Medan ke Solo. Jauh ya..  Kalau di Eropa apa ndak sebanding dari Barcelona menuju ke Berlin. Bayangkan, sejauh itu masih dalam satu negara. Jadi tidak perlu paspor untuk jalan-jalan sejauh itu. Belum lagi daerah timur Indonesia yang memiliki ribuan pulau. Luas banget bukan?

Jadi dimana pluralisme-nya? Kalau Anda cermati, pastilah luas daerah yang membentang akan didiami warga negara yang berasal dari berbagai suku, agama dan ras. Dan sampai saat ini, Negara Indonesia tetap berdiri. Berarti mereka hidup rukun demi Indonesia. Cobalah sesekali  Anda terbang ke Kota Medan. Mungkin yang terbayang sebelumnya adalah kotanya orang Batak. Mungkin ada benarnya. Tapi Anda jangan kaget bila di bandara saja sudah menemukan sopir taksi dengan dialek Jawa bercampur dengan Melayu Medan. Apalagi jika Anda naik becak motor yang dipakai sebagai logo sebuah komunitas di Medan, banyak diantaranya yang mengaku keturunan Jawa. Ternyata Medan itu adalah kota perantauan orang dari Padang, Aceh, Pekanbaru, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Binjai, dll. Mereka hidup berdampingan dengan damai.

Lain kota, lain cerita. Dulu saya pernah singgah sehari di Malang. Selain terkenal dengan buah apel yang dapat dibuat kripik, Malang terkenal dengan kera ngalam. Apa tuh? Itu adalah kata Arek Malang yang dibalik. Mereka senang mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang dibolak-balik. Entah apa maksudnya. Menurut saya sih (belum tentu menurut pakar sejarah :D ) karena itu adalah sandi zaman penjajahan dulu, jadi penjajah yang telah mempelajari bahasa Indonesia tetap bingung menerjemahkan gerakan bawah tanah (baca: pejuang kemerdekaan). Maka bahasa Indonesia yang digunakan di Malang pun agak lain.

Tapi Salatiga sungguh istimewa (masih menurut saya, karena kota kelahiran :) ) dengan berbagai budaya yang melebur. Sebenarnya Salatiga adalah kota kecil yang dingin (itu dulu) yang tidak punya potensi sumber daya minyak untuk digali. Salatiga hidup dari retribusi dan pajak usaha-usaha yang tumbuh disitu. Tapi karena ada UKSW, Salatiga dapat lebih hidup. Anak-anak kuliah datang dari berbagai penjuru, pun tak kalah banyak dari daerah Indonesia Timur yang kebanyakan beragama Kristen dan Katolik. Mesjid dan gereja mudah ditemukan. Orang tionghoa pun memakai bahasa Jawa untuk percakapan sehari-hari. Orang merasa tenang tinggal di Salatiga meski berbagai suku, agama dan ras berkumpul, sehingga kalau pensiun kok kayaknya harus tinggal di Salatiga (sekali lagi, menurut kata hati saya lho ;) ).

Belum lagi Bali dengan tari Pendet yang diaku-aku miliknya negara tetangga yang mengaku Trully Asia itu. Wah, sungguh kental dengan budayanya yang tetap terjaga walaupun banyak turis asing singgah. Papua yang kelihatan tertinggal dalam hal pembangunan pun, justru dikenal wisatawan asing dengan dive point, Raja Ampat.

Sedikit? Justru masih banyak yang tidak bisa saya sebutkan karena sangat luasnya Indonesia dan beragam budaya ada di dalamnya. Namun semua tetap mendukung tegaknya NKRI. Tengok saja ke Senayan yang sudah diganti nama dengan Stadion Gelora Bung Karno, banyak orang dari berbagai latar belakang bersatu mengangkat syal bertuliskan INDONESIA dan mendukung pasukan Garuda untuk bertanding dalam Piala Asia 2007. Atau paling gres (ya tidak gres-gres banget sih) adalah gerakan #IndonesiaUnite. Yang serentak digaungkan karena adanya bom teroris di Hotel J.W.Marriott dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009. Semua mengucapkan “KAMI TIDAK TAKUT”, dan berusaha meyakinkan turis-turis bahwa Indonesia masih aman untuk dikunjungi.

Menurut saya itulah pluralisme di Indonesia yang berbhinneka tunggal ika. Hhm, jadi jangan salahkan masyarakat jika tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar (termasuk saya) karena saking banyaknya bahasa daerah yang tercipta karena luasnya daerah Indonesia. Ini justru kekayaan Indonesia yang patut disyukuri dan kita jaga sebagai identitas bangsa. Tapi jangan Anda bertanya seberapa besar cinta mereka terhadap Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah jiwa raga sampai dibawa mati..

Sep
13

Ikut Lomba? Why Not?

Posted by noegroho under Kehidupan

Kamis tanggal 10 September 2009, jam dinding menunjukkan pukul 05.39 WIB. Seorang satpam masuk ke ruangan kerjaku. Japorman namanya.

Kemudian…

Japorman: Ndik, ada paket untuk kamu nih.

Saya: Paket? Darimana ya?

Japorman: Keterangannya sih dari bagian Umum Palmerah. Tanda tangani tanda terimanya deh.

Saya: Seepseep. Terima kasih. Apa karena ulang tahunku kemarin ya? Tapi kok udah telat banget.

Japorman: Mungkin. Tapi biasanya ulang tahun kan cuma dikirimin kartu ucapan.

Saya: Nah, itu dia. Jadi apa ya isinya?

***

Sejujurnya saya masih dalam jam kerja pagi itu, untuk mengerjakan tabloid olahraga yang terkenal di Indonesia. Yah, tuntutan hidup mengharuskan saya saat ini untuk hidup di jam kerja yang tidak normal untuk sebagian besar orang. Masuk kerja jam 12 malam, pulang jam 7.30 pagi.

Namun, rasanya kok penasaran hati ini tidak dapat ditunda lagi. Ah, masih ada teman satu yang standby di depan komputer, dalam hati saya berkata. Saya baca alamatnya memang benar untuk saya.

Lalu saya baca pengirimnya:

UMUM CETAK

JL. PALMERAH SELATAN 22-28

KOMPAS GRAMEDIA BUILDING, JAKARTA

Wah, apa tidak salah ini?

Saya buka bungkusnya yang berwarna coklat. Saya buka kardusnya. Ada sebuah mug, sebuah agenda dan sebuah pulpen. Lalu ada selembar kartu ucapan yang bertuliskan:

Kami mengucapkan terima kasih kepada

Stepanus Andy Nugroho

Atas partisipasi anda mengikuti sayembara POD.

Oh, saya jadi teringat beberapa bulan yang lalu saya mencoba mengirimkan desain logo untuk lomba logo POD Gramedia. Saat itu juga tidak terlalu berharap banyak, karena sedang melatih kemampuan mendesain logo. Juga tidak adanya kabar pengumuman yang memenangkan hadiah berupa uang senilai beberapa juta, membuat saya jadi tidak memikirkannya lagi.

Tapi adanya penghargaan meski hanya sebagai peserta saja, sungguh membuat saya merasa dihargai. Membuat saya secara pribadi menjadi semakin terpacu semangatnya untuk mengikuti berbagai lomba.

Masih jelas dalam ingatan saya, waktu itu artikel dari Arbain Rambey di Klinik Fotografi Kompas, ditulisnya bahwa jika ada sebuah lomba foto, ikutilah, karena ada lomba yang hadiahnya besar, tapi pesertanya sedikit. Maka, lanjutnya, yang dibawah standar pun akhirnya menang, karena saat deadline penutupan hanya sedikit karya yang masuk ke dewan juri.

Tentu hal ini berlaku untuk lomba-lomba yang lainnya. Setidaknya, ikutilah syarat yang diminta sesuai ketentuan lomba, minimal karya kita sudah lolos penjurian tahap awal. Semakin sering kita mengikuti lomba, akan semakin besar peluang kita memenangkan sebuah lomba. Jika kita sering ikut, walaupun tidak menang, seseorang di luar sana pasti ada yang memperhatikan kita. Mungkin saja, mereka jadi memakai kita untuk pekerjaan mereka. Peluang kerja pun dapat kita peluk mendekat ke kita.

Jadi, ikut lomba? Why Not? :)