Berkali-kali membuka halaman pestablogger.com eh, kok ya baru ditanggal 17 september jam 4 pagi baru sadar kalau ada lomba menulis. Lha ini kan hari terakhir tugas menulis Writing Contest Pesta Blogger 2009. Semoga Ndoro Kakung dan mas Arswendo masih sempat membaca.
Pluralisme? wah, saya kurang paham untuk menerjemahkan arti kata itu. Dulu jaman saya masih sekolah, kata-kata itu belum familiar. Tapi kalau kata Bhinneka, saya tahu itu. Bahkan dari kecil saya sudah dipaksa belajar mengerti apa artinya karena selama sekolah, ya selama itulah saya mempelajari Bhinneka Tunggal Ika. Selama sekolah? Lha, berarti setelah lulus tidak suka mengamalkan Bhinneka tunggal ika? Maaf, sekarang saya menilai Indonesia itu lain dengan saat masa saya sekolah itu.
Indonesia itu kaya akan pluralisme (katanya tidak tahu..
).
*Lha saya cari di internet, ya akhirnya tahu. Tapi saya ingin menulis, bukan menerangkan arti kata pluralisme* Lanjutt….
Anda tidak percaya? Bukalah peta Indonesia. Membentang dari Sabang sampai Merauke, punya nenek moyang pelaut dan kaya akan sumber daya alam. (Hubungannya dimana?) Jadi ingat kemarin, malam-malam beli bakso di depan kompleks perumahan. Saya dan bapak yang jualan bakso pun berbincang sedikit karena saya diburu jam kerja.
“Tidak mudik pak?”
Tukang bakso: Nggih, mas. Saya mudik kok.
“Sudah beli tiket apa pak?naik pesawat atau bus?”
Tukang bakso: Wah, saya naik motor mas.
“Naik motor?(kaget) Berapa hari pak?”
Tukang bakso: 3 hari 2 malam mas. Rame-rame kok, kalau sendiri ya ndak berani tho..
Wah, 3 hari 2 malam mudik naik sepeda motor untuk pulang dari Medan ke Solo. Jauh ya.. Kalau di Eropa apa ndak sebanding dari Barcelona menuju ke Berlin. Bayangkan, sejauh itu masih dalam satu negara. Jadi tidak perlu paspor untuk jalan-jalan sejauh itu. Belum lagi daerah timur Indonesia yang memiliki ribuan pulau. Luas banget bukan?
Jadi dimana pluralisme-nya? Kalau Anda cermati, pastilah luas daerah yang membentang akan didiami warga negara yang berasal dari berbagai suku, agama dan ras. Dan sampai saat ini, Negara Indonesia tetap berdiri. Berarti mereka hidup rukun demi Indonesia. Cobalah sesekali Anda terbang ke Kota Medan. Mungkin yang terbayang sebelumnya adalah kotanya orang Batak. Mungkin ada benarnya. Tapi Anda jangan kaget bila di bandara saja sudah menemukan sopir taksi dengan dialek Jawa bercampur dengan Melayu Medan. Apalagi jika Anda naik becak motor yang dipakai sebagai logo sebuah komunitas di Medan, banyak diantaranya yang mengaku keturunan Jawa. Ternyata Medan itu adalah kota perantauan orang dari Padang, Aceh, Pekanbaru, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Binjai, dll. Mereka hidup berdampingan dengan damai.
Lain kota, lain cerita. Dulu saya pernah singgah sehari di Malang. Selain terkenal dengan buah apel yang dapat dibuat kripik, Malang terkenal dengan kera ngalam. Apa tuh? Itu adalah kata Arek Malang yang dibalik. Mereka senang mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang dibolak-balik. Entah apa maksudnya. Menurut saya sih (belum tentu menurut pakar sejarah
) karena itu adalah sandi zaman penjajahan dulu, jadi penjajah yang telah mempelajari bahasa Indonesia tetap bingung menerjemahkan gerakan bawah tanah (baca: pejuang kemerdekaan). Maka bahasa Indonesia yang digunakan di Malang pun agak lain.
Tapi Salatiga sungguh istimewa (masih menurut saya, karena kota kelahiran
) dengan berbagai budaya yang melebur. Sebenarnya Salatiga adalah kota kecil yang dingin (itu dulu) yang tidak punya potensi sumber daya minyak untuk digali. Salatiga hidup dari retribusi dan pajak usaha-usaha yang tumbuh disitu. Tapi karena ada UKSW, Salatiga dapat lebih hidup. Anak-anak kuliah datang dari berbagai penjuru, pun tak kalah banyak dari daerah Indonesia Timur yang kebanyakan beragama Kristen dan Katolik. Mesjid dan gereja mudah ditemukan. Orang tionghoa pun memakai bahasa Jawa untuk percakapan sehari-hari. Orang merasa tenang tinggal di Salatiga meski berbagai suku, agama dan ras berkumpul, sehingga kalau pensiun kok kayaknya harus tinggal di Salatiga (sekali lagi, menurut kata hati saya lho
).
Belum lagi Bali dengan tari Pendet yang diaku-aku miliknya negara tetangga yang mengaku Trully Asia itu. Wah, sungguh kental dengan budayanya yang tetap terjaga walaupun banyak turis asing singgah. Papua yang kelihatan tertinggal dalam hal pembangunan pun, justru dikenal wisatawan asing dengan dive point, Raja Ampat.
Sedikit? Justru masih banyak yang tidak bisa saya sebutkan karena sangat luasnya Indonesia dan beragam budaya ada di dalamnya. Namun semua tetap mendukung tegaknya NKRI. Tengok saja ke Senayan yang sudah diganti nama dengan Stadion Gelora Bung Karno, banyak orang dari berbagai latar belakang bersatu mengangkat syal bertuliskan INDONESIA dan mendukung pasukan Garuda untuk bertanding dalam Piala Asia 2007. Atau paling gres (ya tidak gres-gres banget sih) adalah gerakan #IndonesiaUnite. Yang serentak digaungkan karena adanya bom teroris di Hotel J.W.Marriott dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009. Semua mengucapkan “KAMI TIDAK TAKUT”, dan berusaha meyakinkan turis-turis bahwa Indonesia masih aman untuk dikunjungi.
Menurut saya itulah pluralisme di Indonesia yang berbhinneka tunggal ika. Hhm, jadi jangan salahkan masyarakat jika tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar (termasuk saya) karena saking banyaknya bahasa daerah yang tercipta karena luasnya daerah Indonesia. Ini justru kekayaan Indonesia yang patut disyukuri dan kita jaga sebagai identitas bangsa. Tapi jangan Anda bertanya seberapa besar cinta mereka terhadap Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah jiwa raga sampai dibawa mati..