Menikmati Kopi Lelet di Rembang… Itu saja
Mengunjungi Kabupaten Rembang, menghadirkan pengalaman unik tentang mengelilingi sebuah kota. Kota yang terletak di pesisir pantai utara ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 2,5 jam ke arah timur dari Kota Semarang. Pusat kota tidak terlalu besar dan cenderung sepi. Suasananya panas, namun angin pantai yang sejuk akan dengan mudah kita rasakan saat kita berteduh di siang hari.
Kota yang terkenal dengan buah kawis—yang dapat dijadikan bahan baku produksi sirup kawis—dan buah siwalan ini merupakan daerah penghasil garam dan hasil laut. Sebagian besar penduduknya yang berada di pesisir pantai berprofesi sebagai nelayan dan petani garam. Hasil tangkapan lautnya tidak sedikit yang dikirim ke kota lain untuk dikemas dan diekspor ke luar negeri.
Tempat wisata yang dapat dikunjungi adalah Dampo Awang Beach. Sebelum dikelola pihak swasta, pantai ini dulunya bernama Pantai Kartini. Di dalamnya kita bisa menjumpai arena permainan Outbond untuk anak-anak dan Flying Fox. Banana boat pun dapat kita coba jika ingin merasakan sensasi basah-basah di pantai ini.

Jangkar Dampo Awang yang melegenda
Tetapi ada satu hal yang menarik. Meski kurang terkenal, kota Rembang menawarkan tradisi yang akan mengundang selera untuk kalangan penikmat kopi dan perokok. Namanya kopi lelet (diucapkan bukan seperti saat kita menyebut ikan lele, melainkan seperti saat kita menyebut huruf e pada kata lemah). Dengan mudah, kita bisa jumpai warung kopi lelet di hampir setiap sudut kota.
Salah satunya yang adalah warung kopi lelet yang ada di Alun-alun kota. Warung bertipe lesehan ini dengan hangat langsung menawarkan pilihan kopi yang ada, mau yang original atau yang memakai tambahan susu. Saat kopinya diminum langsung terasa, bahwa kopinya telah diayak/disaring dengan lembut. Tidak terasa ada ampas kopinya lagi. Sungguh dapat menghangatkan badan dari tiupan angin yang lumayan adem. Segelas kopi lelet dapat kita dapatkan hanya dengan harga Rp 3000.
Iwan, salah satu penikmat kopi lelet, mengatakan hampir setiap malam ia menghabiskan waktu sekitar kurang lebih dua jam untuk nongkrong di warung kopi. “Kopinya itu lembut mas, dan yang penting bisa untuk membuat rokok lelet. Ini yang menarik saya, selain tentunya ngobrol ngalor-ngidul dengan sesama pengunjung setia,” kata Iwan sambil mulai membuat rokok lelet.
Ya, biasanya kopi lelet digunakan untuk membuat rokok lelet. Caranya juga dengan mudah dapat kita praktekkan langsung. Pertama kali, kopi lelet dituang sedikit di cawan. Lalu dengan tisu yang disediakan, kopi diserap hingga menyisakan sedikit ampas lembutnya. Tuangkan susu kental manis yang telah disediakan dengan porsi beberapa tetes aja pada ampas kopi tersebut. Aduk sampai rata. Lalu leletkan (dioleskan) ampas kopi tersebut pada batang rokok, bisa menggunakan sendok, tusuk gigi maupun benang yang telah disediakan. Setelah selesai, rokok yang telah dilelet dibariskan pada batang kayu yang telah disediakan untuk sedikit mengeringkan rokok yang telah dilelet.

Rokok yang telah dilelet dengan kopi lelet
Iwan pun mulai menyalakan sebatang rokok yang telah dilelet, lalu menghisapnya dengan nikmat. “Rasa dan aroma kopinya akan kerasa saat dihisap mas,” tambah Iwan dengan logat kas Rembang.
Meski saya sendiri tidak merokok, tetapi menikmati suasana ngopi dan membuat rokok lelet sungguh merupakan cara unik untuk menghabiskan malam di kota Rembang. Tertarik mencoba?







walah2 mas hmpir aj awk slh bc.
sush ni lidh org medan bc lelet ( pakek e lemah )
tetap semangat, tetap sehat, tetap jln2
pkok’e mak nyuuuzz